Empat Penulis Kamu
 
 

 
 
 

Empat Penulis Kamu

Semuanya serba mengejutkan. Undangan merah, rumah merah, dan wanita pengundang bergaun merah. Keempat penulis itu bermain-main dengan pikirannya. Jangan-jangan. . . .
Selasa, 12 April 2003
Mereka bangun agak siang. Hawa sejuk Kuningan membuat mereka betah meringkuk dalam selimut.
“Min, Min!!!” suara aneh itu memanggil-manggil.
Dari balik selimut tebal Hermin mempertajam pendengarannya, menunggu suara aneh itu terdengar kembali. Seseorang memanggilnya. Tapi siapa? Itu bukan suara salah satu temannya.
Berjalan ke luar, Hermin mendapati Nina dan Mayo tertawa-tawa di samping sangkar burung beo hijau bernama Cocky.
Tak ada yang berminat mandi. Baru mereka sadari kalau pemandangan di sekeliling rumah merah itu sangat indah.
Nyonya Chantal bergabung dan mengajak mereka ke sisi lain rumah. Di tanah datar yang ditata sebagai taman mini, kemboja jepang berjejer dalam enam pot besar.
“Yang ini silangan kemboja jepang dari seri Obesum asal Thailand,” ucap Nyonya Chantal sambil membelai bunga kesayangannya. ”Awalnya putih bersih, lama-lama merah muda. ”
Ada telepon untuk Nyonya. Chantal. Tamunya kasak-kusuk.
“Aku jadi kesal. Dia sengaja mengajak kita ke sini untuk memamerkan semua koleksi mahalnya,” ucap Mayo.
“Dia aneh. Rumah saja harus kembar. Merah pula,” sela Pradnya.
“Jangan katakan dia wanita yang tak biasa. . . . tukang tenung. ”
“Sstt, dia datang. ”
Nyonya Chantal minta maaf, karena tak bisa menemani mereka berkeliling rumah merah. Ia harus menunggu telepon berikutnya dari seorang kawan. Sesama penggemar barang antic, katanya.
“Ayo, kita cari kejutan lain. Belum ada bel makan pagi, kan?”
Kejutan lain itu itu adalah kolam renang kecil di belakang rumah. Di antara rimbunan palem hias berbatang gembung seperti botol.
“Tunggu apa lagi?” seru Pradnya langsung menyebur, tanpa berganti pakaian. Semua melompat kecuali Mayo. Ia hanya duduk-duduk di tepi kolam. Menggoyang-goyang betis langsingnya di dalam air. Ia menggeleng malu ketika Pradnya melambaikan tangan. Mengajak ikut bergabung. Mayo mengaku tak bisa berenang, ia fobia air sejak kecil. Gara-gara nyaris tenggelam di kolam renang umum.
Acara berenang terpaksa berhenti gara-gara Mak Nani memanggil mereka sarapan. Basah kuyup mereka masuk.
Nyonya Chantal menunggu di ruang makan. Ia terlihat lebih santai dalam busana kasual serba hijau. “Selamat pagi. Bagaimana tidur kalian semalam? Nyenyak? Udara Kuningan segar, kan?”
“Berbeda dari Jakarta,” jawab Hermin sungguh-sungguh.
Suasana makan pagi sangat meriah. Para penulis bertukar cerita tentang pekerjaan yang mereka geluti sekarang. Baru-baru ini Mayo diterima sebagai sekretaris di sebuah perusahaan ekspor impor. Hermin menggeluti bisnis barang pecah belah. Nina bekerja di sebuah galeri. Pradnya merasa paling sial karena lamaran pekerjaannya selalu ditolak.
“Lebih baik kau berkonsentrasi sebagai penulis saja. Kisah-kisahmu bagus,” saran Hermin.
“Aku perlu pekerjaan yang lebih pasti dan menjanjikan. ”
“Apakah menjadi penulis tak menjanjikan?” tanya Nyonya Chantal.
“Akan bermunculan penulis-penulis baru yang lebih kreatif. Aku tak yakin akan selalu punya ide,” keluh Pradnya.
Ny. Chantal sibuk mempromosikan kota kelahirannya sambil makan perlahan-lahan. “Hari ini kalian bisa menikmati perbukitan, telaga, taman purbakala, dan desa wisata. Saya tak bisa menemani kalian. Tapi, Badil adalah guide yang tepat. ”
Badil berdiri senyum-senyum di sudut.
Nyonya Chantal ternyata telah menyiapkan segala sesuatunya untuk para penulis. Dipesannya kereta yang ditarik seekor kuda jantan gagah dan Badil menjadi sais.
“Sebenarnya, mobil lebih praktis, tapi akan lebih berkesan kalau naik bendi. Silakan bertamasya. Mudah-mudahan kalian menyukainya. ”
Di bendi, selain peta Kuningan dan brosur tempat wisata, aneka makanan kecil telah menunggu. Nyonya rumah betul-betul berniat memanjakan tamunya.
Udara sejuk menerpa wajah keempat penulis itu.
“Mau ke mana dulu?” tanya Badil.
“Melihat ikan dewa,” celetuk Nina sambil mengenakan kaca mata hitamnya. Kecantikannya membuat orang-orang di jalan menoleh.
“Kalau tidak salah, Linggarjati dirundingkan di sini ya?” kata Pradnya. Badil mengangguk, “Di Kecamatan Ciamis. Mbak Hermin?”
Hermin membolak balik brosur wisata. Bendungan Katiga, Taman Purbakala Cipari, Pemandian air panas Sangkanurip….
“Aku bingung. Terlalu banyak yang harus dikunjungi. ”
Mereka memutuskan untuk mengunjungi tempat wisata terdekat, kolam ikan keramat Cibulan di Desa Manis Kidul. Berwarna abu-abu kehitaman dengan panjang mencapai 30 cm.
“Pernah dibawa ke kota lain. Tapi, malah mati,” jelas penjaga kolam.
Di sekitar kolam Cibulan tumbuh pepohonan tropis untuk berteduh. Di sela-sela pepohonan itu terdapat beberapa tempat mandi. Salah satunya diyakini sebagai petilasan Prabu Siliwangi, penguasa Kerajaan Padjadjaran.
“Sekarang ke Desa Wisata,” komando Badil.
Sepanjang perjalanan dari pintu gerbang ke lahan pertanian, tampak pohon-pohon tropis raksasa menjulang di kanan kiri. Di tengah pematang, terhampar pemandangan yang memadukan lahan pertanian hutan pohon tropis, bukit dan aliran air dari bendungan. Serasi sekali.
Mereka melanjutkan perjalanan ke Bendungan Katiga. Bendungan itu sudah ada sejak penjajahan Belanda. Pohon dan rerumputan di sekelilingnya terawat dengan baik.
Pukul tiga sore, mereka sudah berada di rumah. Nyonya Chantal tampak gembira. Senang melihat wajah tamu-tamunya yang merasa puas. Mereka menyantap makan malam dengan riang.
Sebelum meninggalkan meja makan, Nyonya Chantal mengingatkan kewajiban mereka. Sesuatu yang harus mereka bayar.
“Sekadar mengingatkan, ulang tahun saya lima hari lagi. ”
Keempat penulis tertawa-tawa.
“Idenya sudah ada. Tinggal dikembangkan. Percayalah, Nyonya. Pas jam dua belas, empat kado sudah di meja Nyonya,” lanjut Hermin.
Tamu-tamunya saling mengirim kode. Apa artinya sebuah cerita untuk dia? Kenapa dia begitu antusias membaca hasil karya mereka? A “Bea, Bea…. ”
Entah sejak kapan nama itu mulai sering ia sebutkan. Tamu-tamu tak terlalu peduli, seandainya Cocky tidak keseleo
menambahkan dua kata lagi di belakang nama Bea.
“Coba dengar,” Nina menyenggol Pradnya yang sibuk membuat jus.
“Suara apa?” sungut Pradnya. Suara mixer sangat bising.
“Matikan dulu mixer-nya. Masa kau tak dengar ucapan Cocky?”
Pradnya mematikan mixer. “Huh, itulah akibatnya kalau terlalu percaya pada Mayo. Aku dengar. Bea, mati kau! Mati kau!”
Wajah Pradnya berubah. Sejak Mayo menceritakan dunia hantu, ia mudah sekali terpengaruh.
Hermin minta ditemani membeli pembalut wanita. Terpaksa Mayo meninggalkan tidur siangnya.
“Nin, sepi sekali, ya. Apa yang sedang dilakukan nyonya itu sekarang? “Aku sempat mengorek keterangan dari Badil. Katanya, wanita itu kurang pergaulan. Kira-kira kenapa dia jadi introvert seperti itu?”
“Biasanya, orang segan bergaul dengan orang kaya. ”
“Masa, sih, tak ada yang mengajaknya menikah?”
“Mungkin, ia belum bisa melupakan suaminya. Khabarnya suaminya mati tak wajar ya. Sudah, ah. Jangan cerita tentang dia lagi. ”
Jus durian Pradnya betul-betul enak. Dua gelas tinggi berisi penuh jus disimpankan untuk Hermin dan Mayo. Pradnya membuat kembali untuk nyonya rumah.
“Aku mau ke kamar kecil dulu. Tolong pegang mixer ini, Nin. ”
Pradnya masuk ke kamar mandi yang terletak di belakang dapur. Pintu berderit. Perutnya mulas akibat kebanyakan makan tapai. Ia memikirkan cerita macam apa yang akan ia hadiahkan padanya? Mungkin, kisah sebenarnya. Tentang wanita yang ditinggal mati suaminya, memiliki harta berlimpah, dan punya kebiasaan aneh.
Itu akan menyinggung perasaannya. Padahal, Nyonya Chantal telah mengeluarkan uang banyak untuk memberi mereka liburan gratis.
Perutnya sudah agak mendingan. Suara mixer tak lagi terdengar.
Jantung Pradnya berdebar. Pintu kamar mandi tak dapat dibuka. Diputarnya anak kunci. Terputar, tapi pintu tak membuka.
Ia berusaha berpikir positif. Seharusnya, pintu sudah tak terkunci. Hmm, Nina ingin mengerjainya. Pradnya sudah terlalu sering mengusilinya dan sekarang ia balas dendam.
Pradnya memanggil Nina. Tak ada sahutan.
“Jangan begitu, dong. ” suara Pradnya. Letak kamar mandi ini agak jauh dari ruang depan. Di belakang kamar mandi, melalui kaca jendela, ia melihat kebun yang agak gelap. Matahari sulit menerobos masuk. Pasti banyak nyamuk bersarang di sana. Juga drakula….
“Nina!!!” jerit Pradnya. Cerita hantu Mayo terngiang kembali.
“Tolong keluarkan aku!” Pradnya menangis, panik. Menendang pintu dengan kalap.
Setan-setan penghuni barang antik berebut keluar. Berbondong-bondong menuju kamar mandi tua. Tertawa cekikian, menyeringai. Lampu hidup, mati, hidup, mati…
Terdengar suara orang tertawa-tawa. Arahnya dari kebun. Pradnya seolah-olah berhenti mimpi buruk. Pertolongan telah tiba.
“Mayo! Hermin! Tolong, dong!”
Suara kaki berlari mendekat. Pradnya menghapus air matanya.
“Kau kenapa, sih? Jangan bercanda, dong,” kata Hermin kesal. Pradnya melongo. Bercanda? Siapa yang sedang bercanda?
Malamnya, Pradnya jadi bahan tertawaan di meja makan. Nyonya Chantal berusaha membela Pradnya. “Pintunya agak macet. Saya juga pernah terjebak di sana. Rupanya, kamar mandi itu usil lagi. ”
Mereka tertawa. Hanya Pradnya yang raut wajahnya tetap kecut.
Mereka menghabiskan malam dengan bermain kartu. Nyonya rumah keluar bersama Mak Nani.
Cocky tiba-tiba menjerit. “Mati kau! Mati kau!”
Semua tersentak. Suaranya menusuk telinga. Terdengar mengerikan di malam yang hening. Anak-anak sengaja membanting kartu keras-keras supaya tidak mendengar suara Cocky. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Kenapa Nyonya Chantal lama sekali? Segala sesuatu dalam rumah ini begitu misterius.
“Mati! Mati!”
Nina menutup telinganya dengan bantal kursi. “Aduh! Lama-lama aku bisa stres. Bagaimana kalau kita bunuh saja beo itu?!”
“Buatkan cerpen khusus untuk beo. Kau bisa membunuhnya di akhir cerita,” goda Hermin. Tidak lucu. Tapi, semua berusaha tertawa.
“Dia pasti pernah menjadi saksi…. ”
Ketiganya menoleh ke arah Hermin. Khawatir berkembang menjadi obrolan yang membuat bulu kuduk merinding, tak ada yang berminat menyahuti analisis Hermin.
Pradnya kembali tidur sekamar dengan Nina. Mayo tak bisa memejamkan mata. Hermin benar. Ada seseorang bernama Bea yang pernah tinggal di rumah itu. Tapi, kenapa ia harus dibunuh ?
Perasaan tak enak itu muncul lagi. Mayo bisa merasakan kehadirannya. Bulu kuduknya meremang. Baru ia sadari bahwa setiap perasaan itu muncul, lampu kamarnya berkedip-kedip, seolah mau padam. Tirai jendela kamarnya yang tipis juga terembus. Mayo menatapnya cemas. Tak berkedip.

Andi Tabacina Akhmad